Skip to content

Cara Nemuin Ide dari Pikiran Sendiri

Pernah tidak kamu merasa: "Aduh, mau nulis tapi bingung mau nulis apa?"

Terus kamu scrolling cari inspirasi, buka ini-itu, tapi malah makin bingung. Akhirnya... ya sudah, tidak jadi nulis.

Saya juga begitu kok dulu.

Sampai saya menyadari satu hal yang mengubah cara saya menulis:

Ide itu bukan dicari. Ide itu disadari.

Pikiran kamu sebenarnya sudah penuh ide. Cuma masalahnya, kamu belum tahu cara menangkapnya.

Nah, di sini saya mau berbagi caranya. Sederhana kok. Tidak ribet.

Langkah 1 — Berhenti mencari topik, mulai perhatikan pikiran

Ini kesalahan yang paling sering saya lihat (dan dulu saya lakukan juga):

Bangun pagi, buka laptop, terus: "Hari ini nulis apa ya?"

Kalau kamu mulai dari pertanyaan itu, ya akan susah. Karena kamu memaksa mencari sesuatu yang sebenarnya sudah ada di dalam kepalamu.

Coba ganti pertanyaannya:

  • "Apa yang saya pikirkan hari ini?"
  • "Hal apa yang membuat saya kepikiran terus?"
  • "Tadi saya kesal, kenapa?"

Nah, itu dia sumbernya.

Emosi = sinyal ide.

Kalau ada yang membuatmu kesal, senang, bingung, atau bahkan gelisah... itu ide.

Contohnya: beberapa hari lalu saya tiba-tiba merasa kesal karena menulis terasa lama sekali. Terus saya sadar: "Eh, ini kan bisa jadi tulisan." Jadilah artikel tentang cara menulis tanpa stuck.

Lihat? Dari rasa kesal saja sudah jadi ide.

Langkah 2 — Tangkap pikiran mentah (jangan langsung rapi)

Ini penting: jangan langsung membuat tulisan rapi.

Begitu kamu dapat pikiran, langsung tangkap saja. Tulis mentah-mentah. Berantakan? Tidak apa-apa. Jelek? Santai.

Yang penting: tertangkap.

Saya pribadi pakai:

  • Notes HP (paling sering)
  • WhatsApp ke diri sendiri
  • Kadang notebook kecil kalau lagi tidak pegang HP

Contoh yang saya tulis:

  • "Capek tapi maksa produktif"
  • "Takut posting karena mikir jelek"
  • "Orang sukses kelihatan santai, tapi saya panik terus"

Lihat? Tidak rapi kan? Tidak masalah.

Jangan jadikan caption dulu. Jadikan bank ide dulu.

Nanti pas kamu butuh ide, tinggal buka notes ini. Kamu sudah punya 20-30 ide mentah yang bisa dikembangkan.

Langkah 3 — Pakai 5 pertanyaan pemicu ide

Oke, sekarang kamu sudah punya bank ide. Terus bagaimana mengolahnya jadi tulisan?

Gampang. Ambil satu pikiran mentah, terus tanyakan 5 pertanyaan ini:

  1. Kenapa saya memikirkan ini?
  2. Kapan terakhir mengalami ini?
  3. Apa yang saya pelajari dari pengalaman itu?
  4. Kesalahan apa yang saya buat waktu itu?
  5. Kalau ngobrol ke teman, saya akan menjelaskan bagaimana?

Dari sini, kamu sudah bisa membuat 1 postingan lengkap.

Contoh dari pengalaman saya:

Pikiran mentah: "Takut posting karena mikir jelek"

Saya tanyakan 5 pertanyaan tadi:

  1. Kenapa? → Karena takut dinilai
  2. Kapan? → Minggu lalu pas draft tweet tapi tidak jadi posting
  3. Pelajaran? → Ternyata orang tidak sepeduli yang saya kira
  4. Kesalahan? → Menunda-nunda terus sampai akhirnya tidak posting sama sekali
  5. Ngobrol ke teman? → "Bro, saya baru sadar kalau takut posting itu cuma di kepala saja. Orang lain sebenarnya tidak terlalu memikirkan..."

Itu bisa jadi tulisan.

Langkah 4 — Pakai struktur sederhana: pikiran → cerita → pelajaran

Saya tidak suka rumus-rumus ribet. Makanya saya pakai yang sederhana:

Pikiran → Cerita → Pelajaran

Contoh:

Pikiran: "Takut tulisan jelek"

Cerita: "Dulu saya menunda posting hampir sebulan. Alasannya? Takut tulisan saya jelek. Takut tidak ada yang baca. Takut dikritik. Sampai akhirnya saya sadar: saya tidak akan pernah jago menulis kalau tidak pernah posting."

Pelajaran: "Menulis jelek itu proses. Semua orang yang sekarang jago menulis, dulunya juga jelek. Bedanya? Mereka nekad posting."

Lihat? Sederhana kan?

Kamu tidak perlu jadi penulis hebat. Kamu cuma perlu jujur.

Langkah 5 — Ide terbaik itu dari masalah kecil, bukan momen besar

Ini yang sering membuat orang stuck: menunggu momen "wah" untuk menulis.

"Nanti kalau sudah sukses baru menulis..." "Nanti kalau sudah ada pencapaian besar..."

Tidak perlu begitu.

Justru ide terbaik itu dari masalah kecil yang semua orang alami:

  • Bingung mau mulai kalimat pertama
  • Scroll IG sejam tapi tidak posting apa-apa
  • Melihat orang lain sukses, terus merasa tertinggal

Ini semua relatable.

Orang tidak butuh cerita tentang bagaimana kamu jadi miliarder. Orang butuh cerita tentang bagaimana kamu menghadapi overthinking pas mau posting. Karena mereka juga mengalami hal yang sama.

Langkah 6 — Bedakan ide latihan vs ide posting

Ini penting supaya kamu tidak burnout.

Ide latihan → untuk menulis saja. Bebas, jelek, tidak usah dipikir. Tujuannya: latihan.

Ide posting → satu ide, satu pesan jelas. Ini yang kamu publish.

Jangan semua ide langsung diposting. Buat ide latihan dulu untuk pemanasan.

Saya biasanya sehari menulis 3-4 ide latihan (di notes). Dari situ, saya pilih 1 yang paling oke untuk diposting.

Jadi kamu tidak kehabisan tenaga, dan kualitas tulisan tetap terjaga.

Latihan praktis untuk memulai

Tidak usah ribet. Ambil 5 menit sekarang.

Lengkapi kalimat ini:

  1. "Akhir-akhir ini saya sering kepikiran tentang…"
  2. "Hal yang paling membuat saya stuck adalah…"
  3. "Kesalahan yang sering saya ulang adalah…"
  4. "Saya baru sadar kalau…"
  5. "Dulu saya pikir … ternyata …"

Dari 5 jawaban ini, kamu sudah punya 5 ide postingan.

Kalau kamu merasa kehabisan ide:

Bukan karena hidupmu kosong. Bukan karena kamu tidak punya pengalaman menarik.

Tapi karena kamu belum mendengarkan pikiran sendiri.

Ide itu ada. Di kepalamu. Sekarang.

Kamu cuma perlu:

  1. Mendengarkan pikiran
  2. Menangkapnya dengan notes
  3. Mengembangkannya dengan 5 pertanyaan tadi

Lanjut baca: