Konten terbaik lahir dari pengalaman pribadi. Mari saya berikan contoh.
"Ketika pertama kali membangun akun publik, saya sering menulis panjang lebar. Saya pikir semakin panjang, semakin terlihat kredibel. Tapi engagement malah sepi. Sampai suatu hari saya mencoba menulis pendek, jujur, dan spesifik. Responsnya justru jauh lebih hidup."
Bedah dengan Elemen Cerita
Karakter Saya (kreator pemula)
Tujuan Ingin terlihat pintar dan serius lewat tulisan
Tantangan Konten sepi, tidak ada respons audiens
Resolusi / Pelajaran Audiens lebih butuh relevansi dan kejujuran daripada kepintaran
Sudut Pandang yang Dipilih
Bukan sekadar "cara menulis konten", tapi:
kesalahan umum kreator pemula: terlalu ingin terlihat pintar
Pendekatan ini membuat cerita lebih mudah dipahami.
Versi Konten (Siap Posting)
Hook (baris awal):
Dulu saya kira, konten bagus itu yang terlihat pintar.
Isi cerita:
Saya menulis panjang, pakai kata-kata rumit, dan menjelaskan semuanya. Tapi setiap kali posting, rasanya seperti berbicara sendirian.
Sampai akhirnya saya lelah dan mencoba menulis pendek. Jujur. Spesifik. Dari pengalaman sendiri.
Anehnya, justru di situ orang mulai merespons, bercerita balik, dan berdiskusi.
Penutup (pesan):
Audiens tidak datang untuk melihat kita pintar. Mereka datang untuk merasa "saya juga pernah di situ".
Kenapa Konten Ini [object Object]?
- Pengalaman personal yang autentik
- Menyentuh masalah umum kreator
- Tidak menggurui
- Ada refleksi, bukan sekadar teori
Konten seperti ini:
- Cocok untuk personal branding
- Membangun kepercayaan
- Mudah dikaitkan dengan produk atau jasa ke depannya
Template untuk Kamu Coba
Gunakan pengalamanmu sendiri, sesuaikan isinya:
Dulu saya kira ___ itu penting. Jadi saya ___.
Tapi hasilnya ___.
Sampai akhirnya saya sadar, yang lebih dibutuhkan orang itu ___.